Tukang Isi Ulang Gas Korek Api Keliling Terseret Longsor

0
174
Di gubuk inilah Edi bersama istri dan anaknya tinggal. Sungguh memprihatinkan

Liputan : Shandi

Cianjur, metronusantara.com – Karena himpitan ekonomi, Edi (50) warga Kampung Gunung Kutu RT 001/005 Desa/Kecamatan Sukaresmi Cianjur Jawa Barat, setiap harinya harus berjalan kaki keliling kampung untuk menawarkan jasanya. Yaitu sebagai pengisi ulang gas korek api.

Namun pada Jumat (10/11) lalu, sekira pukul 17.00 WIB, saat ia hendak pulang, setiba di Kampung Dangdeur hujan turun dengan derasnya. Ia segera berteduh. Namun nahas, di tempat berteduh itu terjadi longsor. Edi pun terseret hingga beberapa meter.

Menjelang maghrib seorang petani ulang dari ladang menemukan Edi tergeletak berlumuran tanah dan darah. Kemudian ia membawanya ke salah satu rumah warga dan segera melapor ke Ketua RT setempat.

Setelah menghubungi keluarga Edi, Ketua RT dibantu warga membawanya ke RS Cimacan. Tak lama kemudian datang Dedeh (31) anak Edi ke RS untuk memastikan.

Namun karena berasal dari keluarga tidak mampu, keesokan harinya pada pukul 11.00 WIB, Edi dibawa pulang oleh Dedeh dan keluarga. Padahal ia harus dirawat secara intensif di RS.

” Kalau dibawa pulang kerumah kan jauh apalagi disana rumahnya sempit, dengan sangat terpaksa, kami (anak/mantu) membawa bapak pulang ke rumah kami karena tidak punya uang untuk biaya perawatan,” ucap Dedeh.

Rustandi (33) mantu menambahkan, dirumah mertua tidak ada siapa-siapa. Kalau pun ada keadaannya memprihatinkan. “ Jadi bapak dibawa ke rumah kami di Rarahan untuk istirahat,” tambahnya.

Penderitaan Edi tidak hanya sampai disitu saja, Ii (43) istri korban dan 2 anak perempuannya tinggal dirumah panggung berukuran 3 m X 3m yang hampir ambruk. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena  selain tidak memiliki uang, Ii juga mengalami keterbatasan pisik.

Asep teman Rustandi yang datang kerumah Edi mengatakan, rumah panggung yang dihuninya hampir ambruk. Tiang atap rumah sudah patah dan gentengnya pun banyak yang bocor.

Ia juga menambahkan, istri Edi tuna daksa dan Deti (5) anak bungsunya tunawicara. Sedangkan yang biasa membantu pekerjaan rumah Ani (12) anak ke-3. Sementara 2 anak perempuan lainnya sudah menikah ikut suami.

Edi dan anak-anaknya sangat berharap, ada donatur atau dermawan yang rela membantunya. “ Karena kalau mengandalkan penghasilan bapak jelas tak akan mencukupi, jangankan untuk membenahi rumah, untuk makan saja sudah susah,” aku Dedeh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here