Tersangka Pembuat Ujaran Kebencian Diserahkan Ke Kejari Cianjur

0
219
SRN tersangka pembuat ujaran kebenciab saat diserahkan ke Kwjari Cianjur

Laporan : Rudiawan Hartono/Jib

Cianjur, metronusantara.com – Kejaksaan Negeri Cianjur, Kamis (28/9)   menerima pelimpahan berkas tahap dua salah satu tersangka kasus ujaran kebencian SRN  yang tertangkap di Cianjur 5 Agustus 2017 lalu oleh  Tim Cyber Bareskrim Mabespolri.

PLH Kejaksaan Negeri Cianjur M.I.F Shitie membenarkan, pihaknya telah menerima pelimpahan berkas SRN tersangka kasus ujaran kebencian.

“ Hari ini kita menerima pelimpahan tahap dua tersangka kasus ujaran kebencian, SRN berikut barang buktinya. Tersangka dan barang bukti tadi langsung dibawa oleh penyidik didampingi petugas dari Kejasaan Agung,” ucapnya usai memeriksa berkas tersangka SRN di kantor Kejaksaan Negri Cianjur.

Lebih lanjut Ia menuturkan, terkait dengan perkara ujaran kebencian, ini membuat pimpinan mengambil perhatian yang cukup. Artinya menugaskan beberapa jaksa yang dipandang mempunyai kemampuan lebih, khusus untuk menangani kasus ini.

Menurut Sihite, tersangka kasus ujaran kebencian tersebut, terancam pasal  pidana.

“ Tersangka akan dikenakan pasal pidana, yakni pasal 45 ayat 2 junto 28 ayat 2 undang-undang nomor 19 tahun 2016, tentang perubahan atas undang-undang nomor 11 tahun 2008, tentang informasi dan transaksi elektronik. Serta pasal 16 junto pasal 4 huruf b angka 1, undang-undang nomor 40 tahun 2008, tentang penghapusan diskriminasi, ras dan etnis,” ujarnya menegaskan.

Sihite mengungkapkan, penanganan kasus tersangka SRN bukan adanya intimidasi pada orang kecil, melainkan menurutnya perkara tersebut mempunyai kesalahan karena telah mengajarkan ujaran kebencian.

Pada perkara ini tidak hanya melihat pelakunya saja,  tersangka itu orang biasa. Namun akibat postingan tersangka memosting pemberitaan yang mengajarkan kebencian atau hate speech. Sehingga memiliki dampak bagi stabilitas keamanan dan ketentraman. Hal itulah yang menjadi fokus perkara ini.

“ Apa yang di upload oleh tersangka ada aturan undang-undangnya, jadi bukan kesan mengkriminilisasi orang kecil, merampas kebebasan berpendapat. Namun dalam hal ini, bagaimana memberikan pendapat sesuai dengan salurannya, karena undang-undang sudah memberikan aturannya, jadi kalau aturan tersebut dilanggar maka hukum akan berjalan,” jelasnya.

Adapun barang bukti yang diamankan dari tersangka, kata Sihite, diantaranya flasdisk, HP, Paspord dan kartu ATM.

“ Barang bukti tersebut akan dijadikan barang bukti instrument maupun hasil yang membuat perkara ini  untuk membuktikan unsur pasalnya. Dan kita pun akan limpahkan dakwaan secepatnya ke persidangan. Sesuai dengan ketentuan, kita punya waktu 20 hari melakukan penahanan, dan saya sudah sampaikan kepada tim supaya dipercepat proses persidangannya ,” ungkapnya.

Sementara itu, tersangka SRN mengungkapkan alasan dirinya melakukan postingan tersebut hanya untuk memberikan pendapat, agar Negara Indonesia lebih baik lagi.

“ Saya sengaja memposting, karena setiap warga Negara itu mempunyai hak untuk berdemokrasi dan punya hak suara, jadi saya juga wajar dong memberikan pendapat, kalau ada pro dan kontra itu sudah biasa,” kilahnya seraya menyebutkan hal itu dilakukan agar Indonesia ini ada perubahan yang lebih baik lagi.

“ Karena saya lihat kondisi Indonesia hari ini tidak adan perubahan,” ucap dia kepada awak media saat diwawancara di Kejaksaan Negri Cianjur. Kamis (28/9).

SRN mengaku. perbuatan yang telah diperbuat merupakan inisiatif sendiri. Tidak adanya gruop atau orang lain yang menyuruhnya.

Lebih lanjut SRB nengatakan, apa yang telah dilakukannya merupakan inisiatif sendiri. Tanpa ada yang menyuruh dan tidak ada bayaran. SRN pun menegaskan, ia tidak berkelompok maupun tidak ada jaringan.

“ Dan sepertinya bukan saya saja yang memposting, namun anak bangsa yang lain juga ada yang  posting.  Sehingga lebih banyak orang-orang yang posting tentang pemerintah, saya pun berharap ada perubahan untuk pemerintah kedepannya jadi lebih baik lagi,” ucapnya dengan penuh semangat.

Sementara itu, salah seorang Kuasa Hukum SRN, T. Eddy Edward mengatakan, pasal yang dituduhkan pada kliennya lebih kepada pencemaran nama baik, dan undang-undang IT. Kendati demikian, Edward berharap kliennya itu tidak terbukti bersalah, terlebih tergabung pada jaringan organisasi Saracen.

“ Kasus Saracen sendiri sebenarnya klien kami tidak terkait, lebih kepada jeritan anak bangsa yang merasa adanya intimidasi. Memang adanya tuduhan terjadap klien kami masuk ke dalam organisasi Saracen, namun hal itu tidak benar. Maka dari itu, mudah-mudahan kita bisa membuktikan, bahwa klien kami  tidak terbukti, karena jelas ini inisiatif dari pada klien kami. Dimana jeritan anak bangsa yang memiliki rasa nasionalisme yang tinggi,” pungkasnya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here