Setelah Kiosnya Dibongkar, Bah Usup Kini Jualan Digerobak Dorong

0
80
Bah Usup kini berjualan di gerobak dorong

Liputan : Sam

Cianjur, metronusantara.com – Pasangan Suami Istri (Pasutri) Abah Usup (70) dengan Yani (45) warga Kampung Karangsari RT 01/07 Desa Karangwangi Kecamatan Ciranjang Cianjur Jawa Barat, kini terpakas berjualan nasi kuning, kopi, roko dan jenis makan lainnya, di gerobak dorong. Tak Hanya itu, omzet pendapatan tiap harinya pun menurun drastis.

Abah Usup saat ditanya menerangkan, mulanya ia jualan makanan dan miniman ringan di kios yang berdiri di pinggir jalan Raya Cianjur Bandung. Tepatnya di Kampung Leuweung Lame RT 01/01, Desa Kertajaya Kecamatan Ciranjang. Saat itu, pendapatannya cukup menjanjikan. Hingga mampu membiayai sekolah 3 orang cucunya dan satu orang telah lulus di perguruan tinggi.

Tapi setelah ada penertiban kios-kios dipinggir jalan raya yang dilakukan Pemkab Cianjur, ia terpaksa membongkar kiosnya. Karena kalau dibiarkan takut digusur atau dibongkar paksa pihak Satpol PP Cianjur.  Seperti yang terjadi di kawasan Cipanas, Puncak Cianjur. Karena itu, Bah Usup terpaksa sekarang berjualan makan dan minuman ringannya dengan menggunakan gerobak dorong. Tentu saja omzet pendapatannya juga menurun drastis, hanya mampu untuk makan sehari saja.

Sedangkan untuk biaya sekolah dua orang cucunya, terpaksa harus mencari usaha lain. Supaya sekolahnya minimal tamat sampai SLTA. Merosotnya omszet pendapata, itu, akibat jualan terbatas waktu, sampai sore. Para pelanggan merasa tidak nyaman dan  tidak memiliki auning, penutup tempat duduk. “ Hingga bila hujan turun langsung bubar, langsung pulang,” ucap Abah Usup dengan nada haru.

Sementara itu, Kang Erwin pengamat pembangunan yang bertugas di wilayah Cianjir Timur menambahkan, mulanya para pedagang yang mangkal di pinggir jalan raya  Kampung Leuweung Lame Kecamatan Ciranjang, kurang lebih sebanyak 50 kios. Namun sekarang seluruhnya dibongkar dengan kesadaran sendirinya. Hal itu dilakukan atas dasar intruksi dari Pemkab Cianjur.

Namun disayangkan berbagai pihak, dibongkarnya kios kios tersebut, bukan atas kesadaran pribadi belaka, tapi adanya intruksi harus dibongkar. Hingga semua itu merupakan keterpaksaan dan tidak adanya ganti rugi.

Alangkah bijaknya, jika sebelumnya pihak Pemkab Cianjur memberikan sedikit kompensasi. Minimal untuk membeli gerobak dorong atau uang lelah bekas membongkar kiosnya.

“ Karena pembongkaran paksa kios itu, omzet para pedagang menurun, seperti halnya Abah Usup hanya meraih keuntungan cukup untuk makan sehari saja, berbeda dengan sebelumnya,” ucap  Erwin dengan nada tegas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here