Ratusan Ton Ikan di Kolam Apung Wisata Jangari, Mati  

2
98
Ratusan ton ikan di Jangati mati akibat arus balik. Petani ikan merugi hingga milyaran rupiah

Laporan : Rudi/Jib

Cianjur, metronusantara.com – Diperkirakan sebanyak 300 ton ikan mati di kolam apung Wisata Jangari  akibat upwelling. Fenomena itu terjadi lantaran cuaca dalam tiga hari terakhir  ekstrem disertai turunnya hujan.

‎Kematian ikan yang terjadi di Blok Maleber, Ciputri, dan Jatinengang. Karuan saja hal itu membuat  petani ikan merugi hingga milyaran rupiah.

Aep Saepudin (42),  salah seorang  petani ikan blok Jatinenggang  mengatakan, hujan yang terjadi tiga hari belakangan ini memang memberikan dampak bagi petani. Aliran air yang deras dan angin membuat kotoran yang berada di dasar Jangari naik dan membawa racun pada ikan. Sehingga mengakibatkan kematian massal.

Menurut dia, kematian ikan akan terus terjadi. Saat ini dalam kueun waktu tiga hari saja sudah ratusan ton ikan mati. ” Hal itu terjadi sejak tiga hari terakhir, tepatnya sejak turun hujan,” ujar Aep saat dihubungi melalui telepon selularnya, Kamis (28/9).

Ia mengatakan upwelling kali ini tak hanya menerjang ikan mas saja, melainkan ikan nila dan bawal pun yang biasanya cukup tahan  dengan fenomena rutin setiap tahun ini, mati juga.

Menurut dia, petani ikan yang kolamnya diterjang upwelling masih didata,  kemungkinan mencapai 100 orang petani. ” Itu baru dari tiga blok, belum yang lain. Paling parah itu di Maleber, sebab dekat muara,” tuturnya.

Namun dia juga mengaku heran, peristiwa upwelling datang di bulan September. Biasanya, kata Aep, upwelling akan menerjang kawasan Cirata pada bulan November atau Desember. “Sekarang malah bulan ke sembilan sudah terjadi. Makanya petani tidak ada persiapan, sebab di luar prediksi,” kata Aep

‎Masih menurut Aep, sebagian petani berusaha menekan jumlah ikan yang mati dengan melakukan sistem blower. Yaitu sirkulasi air dinormalkan lagi. Salah satunya dengan menggunakan mesin perahu.

Namun, sebagian petani memilih untuk panen dini. Meski hal itu membuat harga ikan menjadi jatuh. Akibatnya, kerugian terus bertambah, di samping karena ikan yang mati.

” Biasanya harga jual itu Rp 15 ribu per kilogram, sekarang Rp 6.000 per kilogram. Memang jadi anjlok, tapi daripada rugi lebih banyak lagi apa boleh buat. Totalnya saja sekarang sudah Rp 6 miliar dari seluruh petani yang terkena dampak,” pungkasnya.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here