Publik Penasaran Terkait Permasalahan Kepala Puskesmas Sukasari

0
340
Ilustrasi

Laporan : Rikkie Converse

Berita tentang Kepala Puskesmas Sukasari Kecamatan Cilaku Kabupaten Cianjur, Gumilar Farto Siswoyo cukup menyedot perhatian. Tak ayal jika publik dibuat penasaran karena ada tiga persoalan yang mencuat ke permukaan. Yaitu tentang tagihan proyek lalu problem rumah tangga dan pernyataan “sinis” kepada para kontraktor di Cianjur.

Saat berita tersaji, sebelumnya  melalui pendekatan obyektifitas dengan menyajikan fakta kepada pembaca. Sehingga tidak perlu disuguhi opini pribadi. Publik berhak tahu, saat Gumi diwawancarai  mengenai tunggakan proyek, tanpa ragu mengatakan tidak ada mediasi karena merasa tidak dihargai sebagai kepala rumah tangga. Simpelnya, tagihan itu diibaratkan Gumi dengan menyebut mertua menuntut menantunya sendiri dan tindakan tersebut dianggapnya terlalu berlebihan.

“ Kalaupun dilihat profesional, profesionalnya dimana. Dia itu mertua saya walaupun cuman diatas surat. Saya agak kecewa begitu ini muncul (mencuat ke permukaan, red) padahal saya masih ngurusin (kebutuhan keluarga),” kilah Gumi saat ditanyakan tagihan Rp.120 juta untuk proyek renovasi Puskesmas Sukasari jelang akreditasi.

Fakta lain terungkap dari dokumen bermaterai yang ditanda-tangani

Jika berkaca dengan seksama, dalam rekaman wawancara terbaca dengan sangat jelas ada upaya serius dari Gumi sendiri untuk menggiring persoalan kedinasan menjadi urusan pribadi. Gumi dengan optimisnya mengaku jika dirinya sebagai korban ketidakadilan dengan dibumbui urusan rumah tangga. Namun sayangnya Gumi menafikan fakta di lapangan bahwa proyek tersebut ada bukti fisiknya, gampangnya tinggal dilakukan uji petik.

“ Buat apa saya mengarang cerita membuat tagihan proyek kepada Gumi karena itu sama saja mempermalukan diri sendiri. Fisiknya itu ada dan sekarang manfaatnya sudah dirasakan masyarakat tapi kenapa tidak dibayar juga, siapapun tidak akan terima diperlakukan seperti ini,” urai Yati menjelaskan.

Tak berhenti sampai disitu, Gumi juga menyinggung perilaku para kontraktor di Cianjur yang dianggapnya tak bermodal hanya mengandalkan SPK saja. Dengan yakinnya Gumi tidak membubuhkan kata yang ditujukan kepada kontraktor tertentu ataupun oknum kontraktor tapi menggeneralisir kontraktor  yang ada di Cianjur. Hal itu untuk menguatkan pendapatnya bahwa selama ini Gumi acapkali memberikan dana talangan kepada kontraktor (ibu Yati, red) sehingga tidak mungkin ada tagihan yang dialamatkan kepadanya.

Dalam berbagai kesempatan dengan disampaikan melalui orang terdekatnya jika Gumi tak bermaksud ke arah sana (melecehkan kontraktor,red). Sudah bisa ditebak arah yang dimaksud Gumi tapi sayangnya  tidak mau fair jika ucapannya itu bagian dari keseleo lidah. Persoalan salah ucap itu sendiri tidak dijadikan sebagai pelajaran berharga malah terkesan menyalahkan pihak lain.

Urusan yang membelit Gumi kini memasuki babak baru yakni akan digelarnya sidang gugatan perdata di Pengadilan Negeri Cianjur di penghujung bulan ini (31/1/2018). Santer terdengar bahwa jalannya sidang itu akan dihadiri oleh kelompok massa tertentu yang disebut-sebut memberikan dukungan untuk Gumi. Jika ini menjadi kenyataan tentu saja apa yang terjadi dalam berita menjadi benar adanya, urusan kedinasan bergeser jadi ranah pribadi.

Disamping itu juga jika benar posisi Gumi tetap dipertahankan dengan jabatan fungsionalnya sebagai Kepala Puskesmasnya tentu saja publik bisa menilai dengan baik sejauh mana kekuasaan mampu menerima kritik. Kalau boleh meminjam istilah yang digunakan filsuf legendaris Albert Camus, adakalanya kekuasaan tidak pernah sejalan dengan logika. Tidak ada yang perlu merasa menang bahkan tidak juga harus mengakui kekalahan karena peristiwa Gumi menjadi bukti betapapun kritik harus dihargai dengan cara simpatik, tidak dengan tindakan kekerasan.

Akhir kata , rasa penasaran publik belum sepenuhnya terjawab karena perjalanan permalasahan ini keliatannya masih panjang. Namun sampai disini, semua pihak bisa memetik pelajaran berharga saat energi terkuras menyimak peristiwa ini. Dengan tidak luput mengutip “peringatan” dari sastrawan  W.S Rendra, Kita tersenyum bukanlah karena sedang bersandiwara. Bukan karena senyuman adalah suatu kedok. Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap. Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib dan kehidupan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here