Pernyataan Kepala Puskesmas Sikasari, Dianggap Melecehkan Kontarktor

0
243
Ilustrasi

Laporan : Rikki Converse

Cianjur, metronusantara.com – Sejumlah kalangan banyak yang bertanya tentang latar belakang berita berjudul, “Para Kontraktor Sesalkan Penyataan Kepala Puskesmas Sukasari”. Pertama kali tayang pada 8 Januari 2018, hingga kini  sudah dibaca melebihi 200 viewers. Tentu apa yang tersaji bukanlah opini jurnalis, tapi berdasarkan keterangan yang disampaikan narasumber. Yakni Kepala Puskesmas Sukasari, Gumilar Farto Siswoyo.

Proses wawancara berlangsung santai tanpa ada tekanan di aula Puskesmas disaksikan sejumlah orang. Bahkan pria yang akrab disapa Gumi itu juga sesekali tertawa. Lontaran Gumi berusaha meyakinkan pewarta, bahwa apa yang dikatakannya benar adanya. Sehingga harus dikuatkan dengan dalil umum terkait persoalan pribadi yang membelitnya.

“ Rata-rata (boleh dicek), CV (kontraktor) di Cianjur itu, mereka kalau mengerjakan proyek, mereka pakai SI (Standing Instruction) ke Bank. Pinjaman ke Bank, SPK mereka taruh ke Bank. Modal dari Bank itu dipakai buat ngerjain proyek. Nanti pas pencairan sebagian dibayarin, dipotong sebagian, jadi untung. Rata-rata CV di Cianjur seperti itu,” kata Gumi beberapa waktu lalu.

Disini juga publik diingatkan kembali tentang perkataan Gumi yang diduga dengan sengaja menyampaikan opini atau dalil yang belum bisa dipertanggungjawabkan. Hal tersebut menimbulkan protes keras dari para kontraktor yang ada di kota tauco ini.

Jika dianalisa, apa disebutkan Gumi itu sangat serius dan ditujukan untuk kepentingan umum. Karena tidak ada kata oknum kontraktor atau kontraktor tertentu melainkan kontraktor di Cianjur. Dengan yakinnya Gumi menyebut rata-rata sembari meminta pewarta untuk mengecek. Hal ini menunjukkan jika apa yang didalilkan itu syarat dengan kebenaran atau sudah didukung dengan beragam informasi.

Dari sini mencoba untuk tabayyun, tentu saja Gumi harus menyertakan data dan fakta yang mendukung ucapannya tersebut. Sebab, jika ditelisik lebih jauh, ucapan Gumi tersebut diperkirakan sudah lama disimpannya. Jadi tidak ada kaitan dengan masalah yang dihadapinya. Hanya saja begitu ada masalah, terkesan ada momen yang pas untuk diutarakannya sehingga tersampaikanlah ke publik.

Problemnya hingga saat ini Gumi enggan membeberkan fakta dan data yang dimaksud tersebut. Malah tidak pernah menjawab secara tegas pertanyaan sejumlah pewarta. Kalau memang keseleo lidah, Gumi juga menolak minta maaf.

Seperti yang disampaikan melalui orang dekat Gumi, jika ucapannya itu ditujukan kepada pihak yang bermasalah dengan dengannya. Simpelnya Gumi menjawab melalui aplikasi WhattsApp karena menolak berbicara melalui sambungan telepon saat dihubungi pewarta.

“ Karena banyak fakta yang dibelokkan. Masalah ini udah saya kuasakan ke pengacara. Mangga we klarifikasi sareng beliau,” kata Gumi melalui WhattsApp.

Soal fakta yang dibelokkan mengindikasikan Gumi sedang mencari celah kesalahan pihak lain. Tentu saja tujuannya supaya Gumi tidak disalahkan.

Cara berkomunikasi semacam ini bagi pejabat dirasakan kurang tepat. Apalagi berkaitan dengan dugaan keseleo lidah. Sebab jika lidah tak bertulang maka pandai-pandailah menjaga lidah. Terlebih lagi  jika ucapan tersebut yang akan kita sampaikan kepada publik.

Keseleo lidah memang tak bisa dianggap main-main atau sekadar sebuah canda ringan. Semestinya bagi pejabat publik atau siapapun juga  dituntut bersikap hati-hati sebelum menyampaikan opini atau fakta. Informasi yang tersebar akibat keseleo lidah akan menjadi informasi yang menyesatkan dan sangat mungkin menyakiti hati orang banyak.

Dalam salah satu kesempatan, Ketua Gabungan Pengusaha Kontraktor Indonesia (Gapkindo) Cianjur, Agus Hermawan Adamy menyebut jika perkataan Gumi dianggap melecehkan bahkan memiliki kecendrungan menghina profesi kontraktor. Apalagi jika Gumi mendalilkan sesuatu tanpa dilengkapi dengan akurasi data yang memadai maka patut dipertanyakan kompetensi keilmuannya.

Siapa yang mendalilkan sesuatu maka harus bisa membuktikan ucapannya. Namun jika Gumi hanya bisa berkata-kata tanpa didukung data maka bisa dikategorikan sebagai bentuk penghinaan.

“ Ucapan Gumi saya anggap serius dan mengusik nurani publik apalagi yang bersangkutan tidak mau mencabut perkataannya maupun menolak meminta maaf,” tegas pria yang biasa dipanggil Agus Boxer ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here