Pengusaha Injuk Kehilangan Pesanan Akibat Cuaca Ekstrim

0
103
Cuaca ekstrim membuat pengusaga injuk kehilangan pelanggannya

Laporan : Aldan

Cianjur, mertonusantara.com – Ikin Sodikin (50) dan Dedi Kontiadi (46) pemilik pabrik injuk di Kampung Susukan RT 11/04 Desa Susukan Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur Jawa Barat, satu bulan belakangan ini terpaksa harus kehilangan pesanan dari negara tetangga dan negara Eropa. Yakni Malaysia, Singapura, Jepang dan Australi. Pasalnya, cuaca extrim berdampak pada sulitnya bahan baku injuk dari petani. Sehingga terpaksa harus putus kontrak.
” Dimusim penghujan seperti sekarang ini bahan baku injuk  sulit,  bahkan harganya pun lumayan mahal bisa mencapai Rp 3 ribu perkilo dari petani,” kata Dedi, saat ditemui di pabriknya.

Ia mengatakan, sulitnya bahan baku akibat intensitas hujan belakangan ini. Menurut para petani injuk,  mereka tidak bisa beraktivitas karena jalan menuju tempat memetik injuk sangat licin dan curam.

” Karena injuk diambilnya dari ujung batang pohon aren, sehingga ngambilnyapun harus menggunakan tangga yang terbuat dari bambu (sigay) dan pastinya harus hati-hati saat pengambilannya, terlebih pohon aren mengeluarkan air dari batangnya,” ujar Dedi.

Selanjutnya Dedi mengatakan, bukan saja bahan baku, kualitas injuk pun jadi jelek karena tidak terjemur. Ia menjelaskan ada beberapa macam jenis injuk. Diantaranya Kakaban (bahan baku) dari petani dengan harga Rp 3 ribu, Tebu (yang sudah dikemas sudah diikat) dan dibersihkan (disisir). Harga semi Tebu dari petani Rp 7 ribu itu bahan buat sapu, sikat (SP), dan ada yang lebih lumayan harganya Rp 26 ribu itu Tebu super, sama buat bahan baku SP.

” Nah, sekarang susah paling dalam sehari hanya mendapatkan 25 kilogram yang siap dijual,” katanya.

Dia mengatakan, usaha injuk yang ditekuninya sudah hampir 9 tahun. Namun kali ini, ia bersama karyawannya baru merasakan dampak dari musim penhujan. Sehingga harus berkeliling ke kampung-kampung untuk mendapatkan bahan baku injuk.

” Kalau biasanya dari daerah selatan para petani injuk pada diantar kesini dan harganyapun dibawah dari harga sekarang. Coba di Cianjur ada kebun aren mungkin petani dan pengusaha injuk tidak kesulitan seperti sekarang,” ujar dia sambil mengelus dada penuh harap.

Ikin Sodikin (50) pegawai pabrik injuk milik Dedi, sambil menarik injuk yang ia lagi sisir mengatakan, sebenarnya kalau pemerintah memeperhatikan para petani injuk, terlebih para pengepul injuk tidak akan seperti sekarang sulit bahan baku. Menurut dia, sulitnya bahan baku karena di Cianjur belum ada kebun pohon aren, apalagi yang menanam.
” Saya yakin kalau pemerintah membuat lahan khusus pohon aren semua petani injuk tidak akan kesulitan, karena aren itu manfaatnya besar. Misalnya dari mulai daun itu bisa dijadikan sapu lidi, dari batangnya menghasilkan (lahang bahan baku gula aren) dan kulang-kaling, pohonnya bisa menghasilkan aci, (yang disebut aci kaung) jadi pohon aren itu tidak ada yang terbuang,” katanya.

Ikin berharap, petani injuk, pengepul injuk, mau pun pemilik pabrik injuk belum ada perhatian dari pemerintah. Sehingga kesulitan seperti sekarang ini hanya bisa mengeluh dan bersabar.

” Saya berharap pemerintah bisa memperhatikan juga petani injuk, terlebih pemilik pabrik. Karena Cianjur atau Jawa Barat ini penghasil injuk, “ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here