Pembangangunan TPT DI Cihea, Diduga Tak Sesuai Bestek

0
204
Pembangunan Tembok Penyangga Tanah (TPT) Daerah Irigasi (DI) Cihea, di Kampung Soropotan Desa Mekarwangi Kecamatan Haurwangi Cianjur yang, pengerjaanya diduga menyalahi bestek.

Laporan : Sam AS

Cianjur, metronusantara.com – Pembangunan Tembok Penyangga Tanah (TPT) Daerah Irigasi (DI)  Cihea, di Kampung Soropotan  Desa Mekarwangi Kecamatan Haurwangi Cianjur Jawa Barat, pengerjaanya diduga menyalahi bestek. Bahkan pasir yang dijadikan bahan adukannya pun diduga menggunakan pasir yang kualitasnya sangat rendah.

Tentu saja hal tersebut, disoal berbagai elemen masyarakat  dan para pemerhati pembangunan yang ada di sekitar lingkungan setempat. Karena saluran Irigasi primer dan sekunder memerlukan bangunan TPT yang kokoh dan kuat. Sebab volume aliran airnya cukup banyak dan arusnya cukup kuat. Bila dibangun asal-asalan, akan cepat ambruk.

Salah seorang pemerhati bangunan TPT pinggir saluran Irigasi,  warga Kecamatan Ciranjang, Iwan Yusup (50) mengatakan, pihaknya telah melaksanakan pemantauan pembangunan TPT DI Cihea. Pemantauannya dilakukan mulai dari Kampung Pasir Cempa, Desa/Kecamatan Ciranjang, Kampung Bobodolan sampai Kampung Soropotan, Kecamatan Haurwangi dan pembangunan TPT saluran irigasi di kampung lainnya yang ada di kecamatan lainnya.

Hasil pantauan terhadap pembangunan TPT pinggiran saluran irigasi DI Cihea yang dibiayai APBN senilai Rp. 11 miliar lebih dan dikerjakan  PT. Dwi Krida Sempana itu diduga banyak menyalahi bestek. Seperti halnya matrial bahan bangunan batu, banyak menggunakan bukan batu pecah. Selain itu juga pasir untuk bahan adukan menggunakan pasir mirip tanah merah. Hal itu terjadi dibeberapa lokasi pembangunan TPT saluran Irihasi yang ada di Kampung Bobodolan dan Kampung Soropotan Desa Mekarwangi.

Karena itu, diharapkan kepada pihak PT. Dwi Krida Sempana dan pihak dinas terkait, mohon hal itu segera diperbaiki. Bila perlu yang sudah dipasang dibongkar kembali. “ Supaya bangunan TPT tersebut benar berkualitas  dan supaya tidak cepat ambruk, jelas Iwan Yusup.

Dilain pihak, salah seorang mandor pekerja yang berlokasi di Kampung Soropotan, Desa Mekarwangi, Feri (49) mengatakan,  sebenarnya jauh sebelumnya ia  telah beberapa kali menegur pemasok pengadaan  matrial. Karena pasirnya mirip tanah merah. Bila memaksa dikirim pun tidak akan dibayar.

Namun tetap saja mengirimnya dengan alasan mencari pasir hitam dan keras, sekarang ini lagi sulit karena sekarang ini  musim hujan. Hingga banyak galian C yang tutup tidak menggali pasir.

“ Karena itu, kami tidak akan menerima lagi kiriman  pasir yang kualitasnya jelek,” kilah Feri, pada awak media, Minggu (25/02) di lokasi pengerjaan pembangunan TPT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here