Pabrik Biji Plastik Diduga Tak Mengantongi Izin & Resahkan Warga

0
323
Pabrik biji plastik di jalan raya Eks Tol Citarum

Laporan : Sam AS

Cianjur, metronusantara.com – Pabrik biji plastik di pinggir jalan Eks Tol Citarum, tepatnya di Kampung Sipon Kaler RT 13 Desa/Kecamatan Haurwangi Cianjur Jawa Barat, dibangun oleh   Memey warga Jalan Kopo Bandung. Pabrik biji plastik ini, diduga tidak mengantongi izin bangunan dan izin operasional.

Selain itu, keberadaan pabrik tersebut membuat pusing warga setempat. Karena polusi udara dan bau yang menyengat. Ditambah dengan bising suara mesin pabrik. Gilanya lagi, limbah pabrik  dibuang ke selokan hingga merusak tanaman padi dan ikan. Sedangkan pekerjanya, diduga kuat ada orang asing yang tidak memiliki izin tinggal di Indoesia alias warga ilegal.

Informasi yang dapat dihimpun, pabrik biji plastik milik Memey itu, sudah beroperasi kurang lebih 2 tahun. Mulanya dibangun untuk lapang olah raga Futsal. Namun setelah selesai ternyata dijadikan pabrik biji plastik yang bahan bakunya berasal  dari karung plastik bekas.

Selama ini, selain diduga melanggar aturan juga  pabrik biji  plastik tersebut membuat resah warga sekitar pabrik. Karena warga tiap saat harus menghirup udara bau tak sedap. Belum lagi suara mesin pengolahan biji plastik hingga larut malam. Hingga warga merasa terganggu akibat bisingnya suara mesin pengolah biji plastik.

Belum lagi limbah pabriknya yang konon katanya dibuang ke selokan. Padahal air selokan itu bermuara Ke Sungai Citarum. Hingga dikhawatirkan nantinya akan membuat  pencemaran aliran air sungai Citarum.

Selain itu, ada satu orang pekerja teknik warga asing yang sepertinya orang Cina. Karena orang ini sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris mau pun bahasa Indonesia.  Karena itu warga menduga, orang tersebut tidak mengantongi izin tinggal di Indonesia. Karena selamanya diam di dalam pabrik yang pintu gerbangnya selalu tertutup.

Ketua RW 13 Kampung Sipon Kaler, Adeng (50) mengatakan, selama pabrik biji pastik beroperasi, belum pernah memberikan kompensasi dalam bentuk apapun.

“ Bahkan, Teguh (20) yang empat jari tangan kanannya putus tergilas mesin biji plastik saat bekerja, malah sekarang bekerjanya dinonaktifkan,” kata Adeng dengan nada kesal.

Sementata itu, salah sekrang warga setempat yang dikuasakan pihak pemilik Pabrik Biji Plastik, H. Epang (65) mengatakan, mulanya bangunan tersebut akan dijadikan lapalangan olah raga Futsal. Namun takut adanya keributan, maka pemiliknya Memey merubahnya menjadi pabrik biji plastik.

Menurut Epang, jauh  sebelumnya, pihaknya  telah mempersilahkanya  banguna itu untuk dijadikan apa saja. Karena bangunan itu miliknya. Tapi mohon seluruh perizinannya diurus sampai tuntas jangan sampai pabrik biji plastik tersebut sifatnya ilegal. “ Dan nyatanya seluruh perizinannya telah ditempuh sesuai prosedur dan sekarang berada di pemiliknya,” jelas Epang.

Juga diakui Epang, di pabrik biji plastik milik Memey itu ada seorang pekerja teknik warga Cina. “ Tapi itu adalah saudara Ibu Memey juga telah lama diam di Indonesia dan sudah bisa berbahasa Indonesia,” jelas Epang pada wartawan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here