Mendulang Ilmu Itu Tak Ada Batasan Waktu Maupun Usia

0
111
Kelompok bapak-bapak warga Kampung Bedahan Desa Mekargalih, secara rutin mengikuti acara pengajian di Masjid Aeidho

Laporan : Sam AS

Cianjur, metronusantara.com – Semangat mendulang ilmu pengetahuan agama Islam, harus terus dilakukan para orang tua terutama yang telah memiliki anak istri.  Bahkan tidak sedikit orang tua yang sudah memiliki banyak cucu, masih rajin menimba ilmu agama.

Seperti yang dilakukan kelompok bapak-bapak warga Kampung Bedahan, Desa Mekargalih, Kecamatan Ciranjang. Mereka ini tiap Jumat sekira pukul 14.00 WIB,  rutin mengaji. Selain tu, juga  mendulang ilmu pengetahuan  dengan membawa beberapa jenis  kitab kuning. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Yayasan Pendidikan Aridho Desa Mekargalih.

Kegiatan yang dilakukan mereka itu, tak ubahnya para  santri yang sedang mengaji di Pondok Pesanten. Uniknya, cara menulis terjemah atau arti tiap kalimat dalam kitab kuning, ditulis dengan istilah daerah yang kemudian diterangkan Kiyai. Hingga pengajian orang tua tersebut mendapat perhatian dan diminati banyak pihak.

Guru ngaji para orang tua, KH. Acep Numan mengatakan, dilaksanakannya pengajia rutinan Jumat siang, yang disajikannya kitab Tagsir Jalalen, Irsadul Ibad, Takrib, Alfiah dan kitab kuning. Itu semua mulanya berdasarkan permintaan warga. Pihaknya merasa bersyukur karena pada pelaksanaannya tidak hanya warga Kampung Bedahan Desa Mekargalih saja, tapi warga luar fesa lain pun banyak yang ikut mengaji sambil membawa kitab kuning.

Acep berharap, mantan santri, orang tua dan warga manapun yang ingin ikut mengaji kitab kuning, dipersilahkan datang pada Jumat siang. ” Mau sambil bawa kitab kuning atau tidak itu terserah dan pengajian tersebut tidak dipungut biaya seperakpun,” jelas KH. Acep.

Sementata itu, Ustadz Lalah Ubaidillah mengatakan, dirinya sejak usia muda sempat menimba ilmu pengetahuan agama di pondok pesantren yang tak jauh dari rumahnya sambil sekolah. Namun masih banyak kitab kuning yang belum dipelajarinya.

Hingga dengan adanya pengajian rutin tiap Jumat siang, dirinya merasa termotivasi dan langsung ikut larut mengikuti pengajian dengan membawa kitab kuning dengan cara dilogat.

Hal itu diikuti, tiada lain untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman tentang ilmu pengetahuan agama. Nantinya jika sudah paham tentang ilmu agama Islam, diharapkan bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. “ Juga diamalkan dan dipraktekan pada diri sendiri, keluarga dan orang lain yang membutuhkannya,” ucap Ustdz Lalah.

Dilain pihak, warga setempat yang rutin ikut pengajian, Abah Kake (64), mengaku, dirinya telah banyak memiliki cucu dan ikut mengaji rutinan Jumat siang tanpa membawa kitab kuning. Seperti layaknya mengikuti pengajian rutinan. Karena sama sekali tak bisa dan paham menulis huruf Arab.

Biarpun seperti itu, tetap saja ia memiliki semangat untuk mendulang ilmu pengetahuan agama Islam. Karena masih memiliki harapan, dirinya ingin menjalani sisa hidup dengan penuh  ibadah yang baik dan benar. Hingga pada akhirnya, sedikit demi sedikit pengetahuan agama islam yang telah didulangnya bisa ditularkan pada seluruh anak cucunya.

“ Selama masih hidup mencari ilmu itu hukumnya wajib, utlubul illma minal mahdi Ilallahdi, carilah ilmu mulai sejak lahir sampai masuk lubang lahat,” ucap Bah Kake, sediki berdiplomasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here