Dua Warga Cianjur Terjaring Razia Kemenaker & Mabes Polri

0
192
Dua TKW asal Cianjur yang terjaring razia saat akan berangkat ke Timur Tengah secara ileleggal

Laporan : Aldan

Cianjur, metronusantara.com – Dua orang calon tenaga kerja wanita asal Cianjur, Aah Rohanah (37) dan Eka Lestari (45) terjaring operasi infeksi pada 18 Januari 2018 lalu. Mereka terjaring razia yang dilakukan Kementerian Tenaga Kerja dan Mabes Polri di BLKLN Restu Putri Pondok Kopi Jakarta Timur, saat akan berangkat ke Timur Tengah.
Keduanya akan diberangkatkan secara ilegal oleh PT Buana Rizki dengan tidak disertai dokumen resmi dari pemerintah daerah. Seperti diketahui, saat ini pemberangkatan tenaga kerja wanita (TKW)  nonformal ke Timur Tengah sudah ditutup (Moratorium). Tapi Informal (Perusahaan) masih diberlakukan untuk tujuan Timur Tengah
Setelah terjaring, dari 79 TKW  dikembalikan ke daerah asal, termasuk dua orang TKW asal warga Cianjur. Keduanya tiba di kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cianjur, Jumat (26/01).

Aah tercatat sebagai warga Kampung Sindangkerta RT 02/03, Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Eka Lestari (45) tercatat sebagai warga Kampung Bungur RT 01/03, Desa Campaka Mulya, Kecamatan Campaka Mulya.

Keduanya mengaku nekad akan pergi lagi ke Timur Tengah karena terlilit utang. Mereka digaet oleh seseorang bernama Nunung (sponsor daerah) asal Ciranjang, Cianjur. Lalu diantar ke Lukman dengan bendera PT Buana Rizki yang beralamat di Jakarta.

” Saya banyak utang, keberangkatan saya untuk mencari uang dan membayar utang dan biaya anak sekolah,” ujar Aah di kantor Disnakertrans, Jumat (26/1).

Aah mengatakan, dirinya sempat berangkat ke Abu Dhabi pada tahun 2011 dan pulang pada tahun 2013.

” Menjadi TKW lumayan bisa makan dan membiayai anak sekolah. Sekarang saya bingung utang banyak dan tak punya pekerjaan,” kilahnya.
Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Cianjur, Heri Suparjo mengatakan, keduanya terjaring operasi Infeksi bersama dengan 79 TKW lainnya dari daerah berbeda yang hendak pergi ke Timur Tengah.
” Dua diantaranya warga Cianjur, mereka hari ini tiba untuk dikembalikan ke keluarga,” ujarnya.

Setelah diperiksa memang keduanya tak memiliki rekomendasi dan menempuh jalan non prosedural untuk menjadi TKW.
” Padahal sudah kami imbau ke setiap kecamatan dan desa mengenai keberangkatan ke luar negeri,  kami sudah surati setiap kecamatan dan melakukan sosialisasi,” katanya.

Ia berharap masyarakat mendatangi kantor pemerintahan terdekat dan bertanya jika akan berangkat bekerja ke luar negeri. ” Kami sulit memantau kalau yang di daerah, sosialisasi terus kami lakukan,” katanya.
Perwakilan dari Direktorat Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Tenaga Kerja, Yurnalis Chan mengatakan, pada 18 Januari lalu ia menerima informasi dari masyarakat tentang adanya indikasi pemberangkatan TKW non prosedural ke Timur Tengah di Kawasan Pondok Kopi Jakarta Timur.
” Berangkat dari informasi tersebut kami berkoordinasi dengan pihak kepolisian, lalu kami melakukan inspeksi mendadak ke rumah yang dimaksud,” ujarnya.

Ia mengatakan, kebanyakan mereka tidak mengetahui bahwa keberangkatan ke Timur Tengah sudah ditutup.

” Jadi mereka ini sebenarnya adalah korban, mereka tidak mengetahui kalau keberangkatan ke Timur Tengah sudah ditutup, jadi kami kembalikan mereka ke daerah masing-masing,” katanya.

Ia mengatakan, Kementerian Tenaga Kerja mempunyai program untuk menekan laju warga yang berkeinginan untuk menjadi tenaga kerja non formal di luar negeri. ” Satu di antaranya dengan program Dismigratif yakni desa migran kreatif yang sudah dijalankan kementerian,” jelasnya.

Ia berharap, dinas sebagai ujung tombak di daerah juga aktif mensosialisasikan pada masyarakat beberapa program pemerintah yang ditujukan bagi warga yang sudah pernah berangkat ke luar negeri menjadi TKW.

” Karena kebanyakan yang akan berangkat adalah mereka yang sudah berangkat, jadi program ini mudah mudahan bisa menekan laju keberangkatan,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here