Budidaya Jamur Bisa Cegah Niat Untuk Jadi TKW Ilegal

0
79
Para mantan TKW nampak sedang meracik jamur tiram dengan alat seadanya

Laporan:Aldan
Cianjur, metronusantara.com
– Para mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) korban trafficking di Kampung Sukamaju RT 04/03 Desa Cikondang Kecamatan Bojongpicung Cianjur Jawa Barat, berhasil mencegah pemberangkatan TKW ilegal ke Negara Timur Tengah.

Pasalnya, mereka kini dapat membuka usaha sensiri. Karena mereka telah mendapat modal usaha dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI).

Untuk itu, para mantan TKW tersebut kini telah membentuk  kelompok untuk menekuni usaha dibidang budidaya jamur tiram. Bahkan kini, kelompok tersebut sudah berkembang di tiga desa. Yaitu di Desa Cikondang Kecamatan Bojongpicung  Desa Sukaluyu Kecamatan Sukaluyu dan Desa Cibarengkok Kecamatan  Bojongpicung.

Namun sayangnya kelompok budidaya jamur tiram tersebut belum ada perhatian dari pemerintah daerah maupun dinas terkait. Padahal mereka ini sangat memerlukan bimbingan dan juga bantuan. Terutama bantuan dibidang peralatan. Karena sampai saat ini mereka masih menggunakan alat tradisionil. Bahkan untuk meracik bahan baku, dilakukan secara manual.

Aidah Susilawati (40) mantan TKW Saudi Arabia yang juga sebagai ketua kelompok mengatakan, berdirinya kelompok budidaya jamur tiram sangat membantu para mantan TKW. Khususnya mereka korban trafficking pada tahun 2015.

Terlebih setelah mendapatkan bantuan dari IOM melalui SBMI, semakin menambah semangat Aidah untuk bangkit bersama teman-temannya. Maka terbentuklah kelompok budidaya Jamur Tiram  dengan nama kolompok An-Nakhil.

” Alhamdulilah dengan dibentuknya kelompok budidaya jamur ini bisa membantu perekonomian para mantan TKW, sehingga mereka tidak berangkat lagi menjadi TKW,” kata Aidah.

Selanjutnya Aidah mengatakan, sekarang pemberangkatan ke Timur Tengah sudah ditutup. Iadi dengan terbentuknya kelompok para mantan TKW ini bisa merekrut mantan TKW lainnya supaya tidak berangkat lagi ke sana.

” Itu salah satu cara kami dengan anggota untuk pencegahan menjadi TKW ilegal dengan mengembangkan budidaya jamur ini, sehingga sekarang sudah terbentuk di tiga desa dan dua kecamatan,” jelasnya.

Aidah menambahkan, setelah berkembangnya kelompok budidaya jamur tiram ini, belum ada lirikan dari pemerintah. Padahal, semua kelompok sangat membutuhkan bimbingan dan dukungan dari pemerintah dan khususnya dinas instansi terkait.

” Apalagi harga bahan baku mahal tidak seimbang dengan harga jual jamur, sehingga jamur perkilo hanya Rp 10 ribu, karena itu kami butuh bimbingan dan arahan dari pemerintah,” ungkapnya penuh harap.

Nia Julaeha (35) mantan TKW Abu Dhabi, anggota kelompok An-Nakhil mengatakan, setelah terbentuknya kelompok tersebut, ia merasa terbantu untuk menafkahi kedua anaknya. Hingga tidak ada lagi niatan untuk berangkat ke Timur Tengah menjadi TKW.

” Jadi niat untuk berangkat menjadi TKW tidak ada lagi, terlebih setelah ikut menekuni budidaya jamur. Namun sayangnya kelompok kami belum diperhatikan pemerintah,” tuturnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here